Bangsa Ini Hanya Jalan Di Tempat
Selasa, 26 November 2013
0
komentar
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (PGI) Pendeta Andreas Anangguru Yewangoe meluncurkan sebuah
buku berisi kumpulan artikel yang merangkum sejarah persoalan penting
bangsa Indonesia. Tulisan-tulisan karya Yewangoe menunjukkan kondisi
Indonesia saat ini yang tidak jauh berbeda dibandingkan 10 tahun yang
lalu. Bangsa Indonesia hanya berkutat pada masalah yang sama, baik di
bidang politik, kemanusiaan, maupun pendidikan.
Buku Karya Yewangoe berjudul Titik Pandang tentang Perkembangan Masyarakat Indonesia diterbitkan
oleh Institut Dialog Antar Iman di Indonesia atau Institute fir
Interfaith Dialogue in Indonesia (Institute DIAN/Interfidei). Buku
setebal 290 halaman itu adalah kumpulan artikel yang ditulisnya secara
rutin dalam surat kabar Suara Pembaruan selama tahun 2001-2006.“Ketika saya membaca kembali dan membandingkan dengan keadaan sekarang ternyata tidak jauh berbeda. Itu berarti bangsa kita hanya melangkah di tempat, masalah masih itu-itu saja,” Kata Yewangoe, di Jakarta, Rabu (28/11).
Dalam bukunya, Yewangoe mencatat berbagai fenomena sosial, seperti banjir, reformasi, bencana alam, Pancasila, keluarga, Pemilihan Umum, bom bali, RUU Pornografi, dan system pendidikan nasional. Keunggulan tulisan Yewangoe adalah sifatnya yang reflektif karena tidak hanya berbicara persoalan sosial tetapi juga kajian teologis yang mendalam.
“Suatu kali radio getol mendiskusikan partai-partai yang membawa panji saat memberi bantuan dalam bencana alam.Ternyata saya sudah pernah menulisnya. Tawuran antar pelajar juga sudah saya potret,” tutur Yewangoe.
Dewan Penasihat Redaksi Suara Pembaruan, Sabam Siagian, menilai, tulisan-tulisan Yewangoe tidak pernah menggurui atau mengkhotbahi pembaca. Menurutnya, beberapa artikel Yewangoe memperlihatkan kondisi Indonesia saat ini justru jauh lebih buruk dibandingkan masa lalu. Misalnya, tulisan berjudul “Teladan” tanggak 25 November 2001 berisi kritik kepada pemimpin bangsa yang gagagl menjadi contoh bagi rakyat.
“Situasi bukan bertambah baik, malah makin parah. Ada anggota DPR yang dituding anggota cabinet telah melakukan pemerasan. Ada gubernur yang dicopot karena korupsi. Ada menteri masih muda, berpendidikan dan mewakili generasi mendatangtapi terlibat kasus miliaran rupiah. Ada hakim yang sedang menunggu pemeriksaan,” kata Sabam yang juga mantan Duta BEsar RI untuk Asutralia.
“Minority Complex”
Direktur Institut DIAN/Interfidei Pendeta Elga Joan Sarapung mengatakan, Yewangoe berhasil mencontohkan bagaimana peran sejati gereja atau umat Tuhan di tengah bangsa Indonesia. Titik kelemahan gereja di Indonesia adalah selalu menuntut hak-hak sebagai warga minoritas. Padahal, gereja juga merupakan warga negara yang tidak hanya memiliki hak tetapi juga kewajiban untuk menciptakan rasa aman, adil, menghormati perbedaan, atau tidak melakukan kekerasan.
“Tidak heran, sensitivitas gereja terhadap persoalan-persoalan di masyarakat masih minim. Kalauypun ada sangat terbatas. Dugaan saya, ini disebabkan perasaan dan pemikiran yang masih terkungkung dalam “minority complex”, ucap Elga.
Elga mengkritik gereja memiliki pandangan sempit dalam memaknai Tritugas Gereja, yakni persekutuan (koinonia), kesaksian (marturia), dan pelayanan (diakonia). “Pada dasarnya, gereja belum menjalankan tiga tugas pokok gereja secara kontekstual melainkan sekedar menjalankan sesuai tuntutan tradisi lama,” katanya.
Sementara itu, Dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta Pendeta martin Sinaga mengatakan, kekayaan tulisan Yewangoe terletak pada tali temali halus antara pendekatan sosial dan pendekatan iman atau teologis.
Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 29 November 2012
Baca Selengkapnya ....






