Kebebasan Memilih Pemimpin dalam pandangan Alkitab

Posted by Yosua Penpada Selasa, 18 Oktober 2011 0 komentar

Kebebasan Memilih Pemimpin dalam pandangan Alkitab

KEBEBASAN yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia mendapatkan tempatnya juga ketika kita hendak memilih pemimpin. Tetapi, seperti dipahami bahwa kebebasan kita adalah kebebasan dalam ketergantungan kepada tuntunan Tuhan kita, maka kebebasan memilih pemimpin pun demikian. Kita bebas bertindak, melakukan perbuatan memilih tetapi dalam kebebasan itu, kita melakukannya dalam kehendak dan kemuliaan Tuhan.Kebebasan yang dilaksanakan tanpa adanya hubungan dengan Tuhan, jelas bukan kebebasan Kristiani.
Hal ini diperagakan dengan baik dan demokratis dalam Kisah Para Rasul 1:15-26, ketika murid-murid / rasul-rasul bersama umat Tuhan lainnya hendak memilih murid pengganti Yudas. Secara demokratis dengan diusulkan / dicalonkan dari bawah (bottom up), “Pemilu” versi para rasul dan umat Tuhan waktu itu (dengan metode mengundi) melalui tahapan sebagaimana tertulis: Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus dan Matias. Mereka semua berdoa dan berkata: “Ya Tuhan , Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini.....” (Kis 1:23-24).

Inilah bentuk kebebasan yang mengakui kekuasaan Tuhan dalam kebebasan manusia. Dengan demikian orang Kristen meyakini dalam pemilihan pemimpin, bukan kita yang memilih tetapi Tuhanlah yang memilih. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yoh 15:16a). Dengan pemahaman yang seperti ini, maka berdoa adalah tahapan penting dalam Pemilu bagi orang Kristen. Berdoa dan mendoakan. 

“.....dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, ......” (Filipi 1:9 & 10). Pilihan yang terbaik bukan pada pilihan itu sendiri tetapi terletak pada kuasa doa. Kita hanyalah alat Tuhan untuk menyatakan kuasa (pilihan) Tuhan.

Tantangan muncul dalam ranah praksis di lapangan. kebebasan pribadi dalam memilih termasuk keterikatan kebebasan orang Kristen menghadapi arus tantangan zaman yang demikian kuat. Praksis politik dalam arena Pemilukada tanpa disadari telah menggerogoti kebebasan yang kita miliki. Tanpa sadar, kebebasan kita bukan lahir dari nurani tapi lebih dipengaruhi oleh strategi politik para kandidat dan Tim Sukses / Tim Kampanye yang terkadang menghalalkan segala cara. Kebebasan kristiani yang harusnya terikat dengan ketentuan moral Kristiani atau kehendak Ilahi melepas ikatannya dan berganti mengikatkan diri pada ilah zaman berwujud uang, sembako dan bentuk bantuan lainnya. 

Politik kita sekarang ini mengandalkan kekuatan finansial. Berita-berita di koran lokal, sering menyebut calon tertentu siapkan sekian milyar. Fakta-fakta Pemilukada di beberapa tempat mengindikasikan aksi bagi-bagi sembako, uang dan bujukan materi lainnya, halmana ternyata masih sulit dicegah bahkan disentuh dengan piranti hukum kita yang kurang tegas ditambah lagi kelihaian para aktor politik membungkus rapih “bingkisan money politics”. Tanpa sadar konstituen (pemilih) sedang diperbudak oleh ilah zaman, ilah materialisme.
Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus maka kita sedang melakukan pembiaran terhadap arus kapitalisasi demokrasi politik. Sehingga, akan terformat bahwa yang bisa menjadi gubernur atau wakil gebernur haruslah orang yang memiliki kapital / modal, bukan terutama mereka yang memiliki integritas moral dan kecakapan memimpin. Lebih daripada itu, kita sedang membiarkan nurani manusia yang tak ternilai menjadi seharga 5kg beras atau seharga Rp. 50.000,- Rp. 250.000. Pun, jika kita membiarkan aksi money politics terjadi, itu berarti kita telah turut mengantarkan pemimpin kita ke jurang korupsi dan tanpa sadar kita telah sedang menggiring mereka kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Yah, karena modal yang mereka keluarkan pasti akan berusaha mereka dapatkan kembali bahkan lebih daripada itu, mereka harus mendapatkan untung dari jabatannya. Untuk hal ini, kita telah melihat buah-buahnya.
Kita menjadi seperti orang Israel yang sementara dituntun keluar dari tanah perbudakan mesir tapi justru merindukan untuk kembali ke Mesir. Kita menjadi umat yang telah dibebaskan tetapi masih mau mengenakan kuk perhambaan – menjadi hamba manusia. Kita menjadi orang bebas yangmenggunakan kebebasan kita untuk berbuat dosa. Kita yang telah menjadi milik Tuhan yang diberi harta kebebasan namun menyalahgunakan kebebasan itu ! Kita yang telah lunas dibayar oleh pengorbanan Tuhan dan otomatis menjadi miliknya rela menjual kebebasan itu.....Kita akhirnya menjadi tak berdaya ketika melihat pemimpin kita yang terpilih karena membeli suara kita tak bisa berbuat banyak untuk kesejahteraan kita dan rakyat umumnya, selain berbuat banyak untuk mengumpul pundi-pundi pribadi dan kelompoknya.Maukah kita terus terhanyut dalam situasi ini ? Jika tidak maka gereja harus mengambil langkah konkrit menenatang money politics. Bukan hanya mengutus para calon yang adalah warga gereja tanpa membekali mereka.


Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2200656-kebebasan-memilih-pemimpin-dalam-perspektif/#ixzz1bESxBsaXhttp://id.shvoong.com/society-and-news/spirituality/2200656-kebebasan-memilih-pemimpin-dalam-perspektif/

Baca Selengkapnya ....

Pemimpin yang Menyesatkan

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

" Pemimpin yang Menyesatkan "

Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). 68. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". Al Ahzab 33 : 67 - 68http://backtolost.blogspot.com/2009/07/pemimpin-yang-menyesatkan.html

Baca Selengkapnya ....

Pertobatan. http://alkitab.sabda.org/illustration.php?topic=147

Posted by Yosua Penpada 0 komentar
Topik : Pertobatan
8 November 2002

Nats : Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat! (Matius 4:17)
Bacaan :
 Matius 4:17-25
"Dalam banyak organisasi, membuat perubahan bagaikan memoleskan lipstik pada anjing buldog. Anda harus berusaha keras. Sering kali yang Anda dapatkan hanyalah noda lipstik, dan seekor anjing buldog yang marah." Demikian tulis Dave Murphy dalam San Francisco Chronicle (Kronik San Fransisco).
Perubahan yang sejati, entah dalam bisnis, gereja, keluarga, atau dalam diri kita sendiri, mungkin sangat sulit dilakukan dan sukar dipahami. Saat kita merindukan perubahan yang mendalam dan berkelanjutan, sering kali kita hanya dapat melakukan perubahan tambal sulam yang tidak menyelesaikan apa pun serta tidak memuaskan seorang pun.
Kata bertobat digunakan Alkitab untuk menggambarkan awal perubahan rohani yang sejati. Seorang ahli bahasa, W. E. Vine, mengartikan bertobat sebagai "perubahan pikiran atau tujuan seseorang". Dalam Perjanjian Baru, pertobatan selalu melibatkan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu ketika seseorang meninggalkan dosa dan berpaling kepada Allah. Yesus memulai pelayanan-Nya kepada orang banyak dengan berseru, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Matius 4:17).
Saat kita menyesal karena melakukan kesalahan atau karena tertangkap setelah berbuat salah, perasaan ini hanyalah sekadar kosmetik rohani. Pertobatan yang sejati terjadi di lubuk hati kita yang terdalam dan membuahkan perbedaan yang nyata dalam perbuatan kita.
Ketika kita berpaling kepada Kristus dan menyerahkan diri kepada- Nya, Dia mengadakan perubahan yang sejati, bukan sekadar perubahan tambal sulam —David McCaslandhttp://alkitab.sabda.org/illustration.php?topic=147

Baca Selengkapnya ....

SURAT NIKAH

Posted by Yosua Penpada Sabtu, 08 Oktober 2011 1 komentar
suatu mlm, pace jak da bongkar dia pu laci lemari tempat simpan album foto. pace lgi asyik tiba2 dia pu istri datang dari belakang langsung tanya: "bpk, ko cri apa ka"? buka2 album tu ko ingt kta pu masa pcaran ka?"
pace jwb masa bodoh: "ah tarada". mace darah naik memang. mace bentak: " trz ko cari apa"?.
 Pace jwb sante sa: "sya da cari2 buku nikah ni"
mace : "buat apa?"
pace: "kra2 dia pu masa berlaku habis kapan?
hehehehehe........................

Baca Selengkapnya ....

Gedung Kebaktian Jemaat Silo Labapu - Klasis Alor Timur Laut

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

Baca Selengkapnya ....

Gedung Kebaktian Jemaat Silo Labapu - Klasis Alor Timur Laut

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

Baca Selengkapnya ....

Gedung Kebaktian Jemaat Silo Labapu - Klasis Alor Timur Laut

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

Baca Selengkapnya ....

Gedung Kebaktian Jemaat Silo Labapu - Klasis Alor Timur Laut

Posted by Yosua Penpada 1 komentar

Baca Selengkapnya ....

Penampakan

Posted by Yosua Penpada 0 komentar
seorg guru sekolah minggu di jemaat Matani bertanya pada murid2nya :
guru : "sapa yg masi inga cerita minggu lalu?"
murid2 serempak angkat tangan dan berkata : "saya pak"
guru : "coba kamu nita, apa cerita minggu lalu?"
nita : "cerita minggu lalu, tentang penampakan Tuhan Yesus, pak!"
guru : "lipus, betul ko yg nita jawab tu?
lipus : "betul pak, ko pak yg cerita lai ma, pak su lupa ko?"
guru : "beta son lupa, hny mau cek sa lipus masih inga ko sonde!
kalo begitu, skrg beta tny lipus, berapa kali Tuhan Yesus menampakan diri?"
lipus : "10 kali pak"
guru : "salah"
lipus : "ko minggu lalu pak cerita katong bilang 10 kali ma"
guru : "iya, beta lupa kasitau 1 penampakan lai"
lipus : "jd ada 11 kali ko pak? yg terakhir tu di mana pak?"
guru : "iya, ada 11 kali penampakan Tuhan Yesus, yg terakhir tu di OEHENDAK !!!!"
murid : (semua bingung) wkwkwkwkwkwkwk

Baca Selengkapnya ....
Yosua Penpada support Jemaat Silo Labapu - Original design by Bamz | Copyright of Jemaat Silo Labapu.

Total Tayangan Halaman

Followers