Pertanyaan ini semakin jelas terdengar ketika aku
beranjak memasuki dunia kampus. Di Indonesia sendiri saat ini Negara
mengakui 6 Agama resmi Hindu, Buddha, Islam, Kristen Protestan, Kristen
Katholik, dan yang terkahir adalah Konghucu.
Sejak lahir aku dibesarkan di lingkungan Protestan
yang sangat kental dengan budaya batak. Kristen merupakan agama yang
secara langsung, meski bukan karena paksaan, menjadi agamaku. Tanpa
punya kesempatan untuk bertanya tentang setiap ajaran agamaku label
Kristen Protestan menjadi bagian dari diriku.
Di tingkat Taman Kanak-kanak aku diajarkan oleh
guruku untuk berdoa kepada Tuhan meski jujur aku bingung ketika sang
guru berdoa “kenapa beliau tidak memanggil Tuhan yang diajarkan oleh
orangtuaku atau pembimbing sekolah mingguku?”. Tidak hanya itu beberapa
temanku yang lainpun mengucapkan doa kepada Tuhan yang tidak sama dengan
Tuhan yang ada di doaku dan di doa ibu guru.
Memasuki Sekolah Dasar, pengalaman baru aku alami.
Di Sekolah Dasar Negeri yang bangunan, meja dan kursinya merupakan
peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda ini, hal tersebut di atas
terjadi lagi. Kali ini kami pun tidak hanya ditunjukkan adanya “beragam
Tuhan” tapi Tuhan dari salah satu agama begitu mencolok sehingga aku
mulai berpikir Tuhan ini memiliki pengikut paling banyak di Kota kami.
Memasuki dunia yang lebih luas lagi aku melihat dan
mendengar kekerasan yang dikobarkan dengan menggunakan Nama Tuhan dan
Agama. (hal ini terjadi dimasing-masing pemeluk agama) Kekerasan mulai
dari kekerasan yang tidak menimbulkan korban sampai yang menelan korban
ratusan jiwa bahkan jutaan jiwa. Semuanya kekerasan yang didasarkan oleh
Nama Tuhan dan Agama.
Di agama Kristen sendiri banyak aliran yang
berkembang khususnya di Protestan. Semua aliran saling mengklaim paling
kenal Tuhan , paling dekat dengan ajaran Alkitab, paling baik, paling
kudus, dan paling diberkati. Sehingga muncul pertanyaan kalau Tuhan
beeragama Kristen berarti Tuhanpun memiliki aliran tertentu.wah luar
biasa….
Hal yang menarik hatiku adalah pertanyaan yang
sampai sekarang masih menjadi pertanyaan dasar orang-orang dalam
pencarian terhadap Tuhannya, apakah Tuhan itu memeluk agama tertentu?
Mungkin anda adalah seorang yang taat beragama dan
pemuka agama pada masing-masing agama yang anda anut dan percaya. Tapi
mungkin anda juga merasa tidak penting menanyakan pertanyaan ini :
“apakah agamanya Tuhan?” Tapi pertanyaan inilah yang kalau bisa dijawab
menjadi kunci untuk menghentikan kekerasan yang di dasarkan pada agama.
Ketika aku membaca beberapa kitab seperti Alkitab,
Quran dan Kitab Si Shu saya menemukan satu persamaan yaitu percaya
terhadap Tuhan Yang Maha Esa (hanya ada satu Tuhan) meski kalau dibaca
diberbagai teks diketiga kitab tersebut (khususnya Alkitab dan Quran)
Tuhan juga sering dinyatakan dengan kata “Kami” atau “Kita” yang kalau dipahami dengan bahasa manusia kata-kata tersebut berarti jamak bukan tunggal. Muncul pertanyaan lain Tuhan itu ada berapa? (dibahas diartikel berikutnya)
Kembali kepada pertanyaan apakah Tuhan beragama
atau tidak…untuk sementara saya menjawab Tuhan tidak beragama. Meski
masing-masing agama mengklaim bahwa Tuhan yang mereka sembah itu
beragama sesuai dengan agama tertentu. Kalau Tuhan saja diberikan agama
tertentu oleh manusia apalagi Nabi-Nabinya.
Aku bersyukur hidup di Negara yang memiliki
Pancasila dengan kekuatan pertama adalah KeTuhanan Yang Maha Esa. Maha
Esa mungkin bisa berarti jamak atau tunggal tapi yang saya lihat
KeTuhanan Yang Maha Esa sebagai keyakinan dari Bangsa ini terhadap
adanya Kekuatan di jagad raya ini yang menguasai semua mahluk. Hanya ada
satu Penguasa Tunggal yang bernama Tuhan Yang Maha Esa.
Apakah anda masih menganggap Tuhan memiliki agama tertentu?
sumber :
Kompasiana