Statistik jemaat Tahun 2013

Posted by Yosua Penpada Rabu, 18 Desember 2013 0 komentar

Jumlah KK             : 79
Jumlah Jiwa            : 317 orang 
Laki-laki                : 175 orang
Perempuan             : 142 orang

Anggota Babtis        : 320 orang
Laki-laki                : 176 orang
Perempuan            : 142 0rang

Anggota Sidi          : 138 orang
Laki-Laki              :
Perempuan            :

Pasangan Nikah      :55 pasang

Janda                     : 7 orang

Baca Selengkapnya ....

Perangkat MJ Silo Labapu, Periode 2013

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

MAJELIS JEMAAT HARIAN:
Ketua                  : Pdt. Yosua Penpada
Wakil Ket           : Pnt Yosias laoere
Sekretaris           : Pnt. Roberaikes nikson maure
Bendahara          : pnt. Soleman maure
Majelis Jemaat
Penatua              : 7 orang
Diaken               : 8 orang

Baca Selengkapnya ....

A t e i s

Posted by Yosua Penpada Jumat, 06 Desember 2013 0 komentar
by: Bayu Angora
menjadi ateis itu berat!
karena untuk berbuat baik harus
berdasarkan kesadaran sendiri,
bukan karena pamrih oleh
iming-iming surga dan pahala…

menjadi ateis itu berat!
karena untuk tidak berbuat buruk
harus berdasarkan kesadaran sendiri,
bukan karena phobia oleh
dongeng-dongeng azab dan neraka…

menjadi ateis itu berat!
karena harus mampu
berpikir dengan kepala sendiri,
dan bertindak atas kesadaran sendiri,
bukan karena dogma yang dianggap suci…

menjadi ateis itu berat!
jika anda belum mampu untuk
berpikir dan bertindak seperti itu,
sebaiknya anda beragama!

Jakarta
2012


sumber : http://dongengbudaya.wordpress.com/

Baca Selengkapnya ....

Mengusahakan Kesejahteraan

Posted by Yosua Penpada 0 komentar
1
Orang Kristen harus berdoa bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Di samping itu, yang tidak kalah penting adalah bahwa orang Kristen juga harus mengkritik pemimpin bangsa yang korup dan merusak bangsa sendiri.
Yeremia dituduh tidak mengusahakan kesejahteraan bagi bangsa Israel (38:4) karena dia sering menyampaikan Firman Tuhan yang isinya mengkritik pemimpin-pemimpin bangsa tersebut. Dia bahkan dianggap mendatangkan kemalangan dan melemahkan semangat juang para prajurit Israel. Oleh karena itu, ia dibungkam dan dibuang ke dalam sumur berlumpur. Akan tetapi, firman Tuhan tidak dapat dibungkam, sekalipun hamba-hamba-Nya bisa dibungkam. Kebenaran Alah dari mulut Yeremia tidak pernah luntur, walaupun ia harus dibuang dan hidup di sumur berlumpur.
Alkitab memang mengingatkan kita untuk mengusahakan kesejahteraan masyarakat dan bangsa tempat kita hidup. Kebenaran itu justru diajarkan oleh Yeremia sendiri (29:7). Kita harus berdoa senantiasa kepada Allah agar bangsa kita diberkati dengan kesejahteraan. Akan tetapi, kesejahteraan yang dimaksud oleh Alkitab bukan hanya kehidupan yang makmur, tetapi kehidupan yang adil dan benar, yang takut akan Allah, serta yang setiap sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakatnya didasarkan pada sikap hormat pada kebenaran Allah dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, mengusahakan kesejahteraan bagi bangsa kita juga mencakup seperti yang dilakukan oleh Yeremia, yakni menggunakan landasan kebenaran Allah untuk mengkritik para pemimpin yang korup dan bobrok, termasuk mengkritik pemimpin agama kita yang hanya mementingkan diri sendiri serta tidak memperhatikan pertumbuhan rohani dan kesejahteraan umat Allah. [AH]
Yesaya 1:23
"Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim,dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka."


sumber : http://gkysydney.org/

Baca Selengkapnya ....

Bangsa Ini Hanya Jalan Di Tempat

Posted by Yosua Penpada Selasa, 26 November 2013 0 komentar
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Andreas Anangguru Yewangoe meluncurkan sebuah buku berisi kumpulan artikel yang merangkum sejarah persoalan penting bangsa Indonesia. Tulisan-tulisan karya Yewangoe menunjukkan kondisi Indonesia saat ini yang tidak jauh berbeda dibandingkan 10 tahun yang lalu. Bangsa Indonesia hanya berkutat pada masalah yang sama, baik di bidang politik, kemanusiaan, maupun pendidikan.
Buku Karya Yewangoe berjudul Titik Pandang tentang Perkembangan Masyarakat Indonesia diterbitkan oleh Institut Dialog Antar Iman di Indonesia atau Institute fir Interfaith Dialogue in Indonesia (Institute DIAN/Interfidei). Buku setebal 290 halaman itu adalah kumpulan artikel yang ditulisnya secara rutin dalam surat kabar Suara Pembaruan selama tahun 2001-2006.
“Ketika saya membaca kembali dan membandingkan dengan keadaan sekarang ternyata tidak jauh berbeda. Itu berarti bangsa kita hanya melangkah di tempat, masalah masih itu-itu saja,” Kata Yewangoe, di Jakarta, Rabu (28/11).
Dalam bukunya, Yewangoe mencatat berbagai fenomena sosial, seperti banjir, reformasi, bencana alam, Pancasila, keluarga, Pemilihan Umum, bom bali, RUU Pornografi, dan system pendidikan nasional. Keunggulan tulisan Yewangoe adalah sifatnya yang reflektif karena tidak hanya berbicara persoalan sosial tetapi juga kajian teologis yang mendalam.
“Suatu kali radio getol mendiskusikan partai-partai yang membawa panji saat memberi bantuan dalam bencana alam.Ternyata saya sudah pernah menulisnya. Tawuran antar pelajar juga sudah saya potret,” tutur Yewangoe.
Dewan Penasihat Redaksi Suara Pembaruan, Sabam Siagian, menilai, tulisan-tulisan Yewangoe tidak pernah menggurui atau mengkhotbahi pembaca. Menurutnya, beberapa artikel Yewangoe memperlihatkan kondisi Indonesia saat ini justru jauh lebih buruk dibandingkan masa lalu. Misalnya, tulisan berjudul “Teladan” tanggak 25 November 2001 berisi kritik kepada pemimpin bangsa yang gagagl menjadi contoh bagi rakyat.
“Situasi bukan bertambah baik, malah makin parah. Ada anggota DPR yang dituding anggota cabinet telah melakukan pemerasan. Ada gubernur yang dicopot karena korupsi. Ada menteri masih muda, berpendidikan dan mewakili generasi mendatangtapi terlibat kasus miliaran rupiah. Ada hakim yang sedang menunggu pemeriksaan,” kata Sabam yang juga mantan Duta BEsar RI untuk Asutralia.
“Minority Complex”
Direktur Institut DIAN/Interfidei Pendeta Elga Joan Sarapung mengatakan, Yewangoe berhasil mencontohkan bagaimana peran sejati gereja atau umat Tuhan di tengah bangsa Indonesia. Titik kelemahan gereja di Indonesia adalah selalu menuntut hak-hak sebagai warga minoritas. Padahal, gereja juga merupakan warga negara yang tidak hanya memiliki hak tetapi juga kewajiban untuk menciptakan rasa aman, adil, menghormati perbedaan, atau tidak melakukan kekerasan.
“Tidak heran, sensitivitas  gereja terhadap persoalan-persoalan di masyarakat masih minim. Kalauypun ada sangat terbatas. Dugaan saya, ini disebabkan perasaan dan pemikiran yang masih terkungkung dalam “minority complex”, ucap Elga.
Elga mengkritik gereja memiliki pandangan sempit dalam memaknai Tritugas Gereja, yakni persekutuan (koinonia), kesaksian (marturia), dan pelayanan (diakonia). “Pada dasarnya, gereja belum menjalankan tiga tugas pokok gereja secara kontekstual melainkan sekedar menjalankan sesuai tuntutan tradisi lama,” katanya.
Sementara itu, Dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta Pendeta martin Sinaga mengatakan, kekayaan tulisan Yewangoe terletak pada tali temali halus antara pendekatan sosial dan pendekatan iman atau teologis.

Sumber: Suara Pembaruan, Kamis, 29 November 2012

Baca Selengkapnya ....

Istirahatlah Sejenak

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

Istirahatlah Sejenak

Kalian istirahatlah sejenak,
perjalanan kita masihlah lama berdetak.

Menguras benak
menikmati kerak
berbekal senyum yang tampak.

Sungguh kalian bagiku telak
menjadi kelak,
untuk terus kutapak
sedu sedan serak.

Menerobos sepi yang semarak.
Jujur dengan dahak,
untuk iqro menyimak. …

Ya, kalian istirahatlah sejenak


17 Maret 2013 Salam, gemuruhsepi

  sumber : puisi-kehidupan


Baca Selengkapnya ....

Apakah Tuhan Beragama?

Posted by Yosua Penpada 0 komentar
Pertanyaan ini semakin jelas terdengar ketika aku beranjak memasuki dunia kampus. Di Indonesia sendiri saat ini Negara mengakui 6 Agama resmi Hindu, Buddha, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, dan yang terkahir adalah Konghucu.
Sejak lahir aku dibesarkan di lingkungan Protestan yang sangat kental dengan budaya batak. Kristen merupakan agama yang secara langsung, meski bukan karena paksaan, menjadi agamaku. Tanpa punya kesempatan untuk bertanya tentang setiap ajaran agamaku label Kristen Protestan menjadi bagian dari diriku.
Di tingkat Taman Kanak-kanak aku diajarkan oleh guruku untuk berdoa kepada Tuhan meski jujur aku bingung ketika sang guru berdoa “kenapa beliau tidak memanggil Tuhan yang diajarkan oleh orangtuaku atau pembimbing sekolah mingguku?”. Tidak hanya itu beberapa temanku yang lainpun mengucapkan doa kepada Tuhan yang tidak sama dengan Tuhan yang ada di doaku dan di doa ibu guru.
Memasuki Sekolah Dasar, pengalaman baru aku alami. Di Sekolah Dasar Negeri yang bangunan, meja dan kursinya merupakan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda ini, hal tersebut di atas terjadi lagi. Kali ini kami pun tidak hanya ditunjukkan adanya “beragam Tuhan” tapi Tuhan dari salah satu agama begitu mencolok sehingga aku mulai berpikir Tuhan ini memiliki pengikut paling banyak di Kota kami.
Memasuki dunia yang lebih luas lagi aku melihat dan mendengar kekerasan yang dikobarkan dengan menggunakan Nama Tuhan dan Agama. (hal ini terjadi dimasing-masing pemeluk agama) Kekerasan mulai dari kekerasan yang tidak menimbulkan korban sampai yang menelan korban ratusan jiwa bahkan jutaan jiwa. Semuanya kekerasan yang didasarkan oleh Nama Tuhan dan Agama.
Di agama Kristen sendiri banyak aliran yang berkembang khususnya di Protestan. Semua aliran saling mengklaim paling kenal Tuhan , paling dekat dengan ajaran Alkitab, paling baik, paling kudus, dan paling diberkati. Sehingga muncul pertanyaan kalau Tuhan beeragama Kristen berarti Tuhanpun memiliki aliran tertentu.wah luar biasa….
Hal yang menarik hatiku adalah pertanyaan yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan dasar orang-orang dalam pencarian terhadap Tuhannya, apakah Tuhan itu memeluk agama tertentu?
Mungkin anda adalah seorang yang taat beragama dan pemuka agama pada masing-masing agama yang anda anut dan percaya. Tapi mungkin anda juga merasa tidak penting menanyakan pertanyaan ini : “apakah agamanya Tuhan?” Tapi pertanyaan inilah yang kalau bisa dijawab menjadi kunci untuk menghentikan kekerasan yang di dasarkan pada agama.
Ketika aku membaca beberapa kitab seperti Alkitab, Quran dan Kitab Si Shu saya menemukan satu persamaan yaitu percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa (hanya ada satu Tuhan) meski kalau dibaca diberbagai teks diketiga kitab tersebut (khususnya Alkitab dan Quran) Tuhan juga sering dinyatakan dengan kata “Kami” atau “Kita” yang kalau dipahami dengan bahasa manusia kata-kata tersebut berarti jamak bukan tunggal. Muncul pertanyaan lain Tuhan itu ada berapa? (dibahas diartikel berikutnya)
Kembali kepada pertanyaan apakah Tuhan beragama atau tidak…untuk sementara saya menjawab Tuhan tidak beragama. Meski masing-masing agama mengklaim bahwa Tuhan yang mereka sembah itu beragama sesuai dengan agama tertentu. Kalau Tuhan saja diberikan agama tertentu oleh manusia apalagi Nabi-Nabinya.
Aku bersyukur hidup di Negara yang memiliki Pancasila dengan kekuatan pertama adalah KeTuhanan Yang Maha Esa. Maha Esa mungkin bisa berarti jamak atau tunggal tapi yang saya lihat KeTuhanan Yang Maha Esa sebagai keyakinan dari Bangsa ini terhadap adanya Kekuatan di jagad raya ini yang menguasai semua mahluk. Hanya ada satu Penguasa Tunggal yang bernama Tuhan Yang Maha Esa.
Apakah anda masih menganggap Tuhan memiliki agama tertentu?

sumber : Kompasiana

Baca Selengkapnya ....

Bicara Tentang Tuhan

Posted by Yosua Penpada 0 komentar
Saya tidaklah seorang ahli kitab atau alim ulama atau pandita dari salah satu agama, KTP saya memang Kristen karena saya dilahirkan dalam keluarga Kristen.Namun bukanlah saya yang menyatakan kalau saya beragama Kristen, tetapi orang lainlah (termasuk pemerintah) yang melabelkan demikian.
Saya masih cukup muda saat ini, sekitar 30 an tahun, namun memang saya sudah katham Alkitab beberapa kali dalam versi terjemahan bahasa Indonesia, dan sepanjang yang saya baca dan renungkan, tidak ada pembahasan soal Agama Kristen yang ingin disampaikan oleh Tuhan dalam firman Nya. Mulai dari penciptaan dalam Genesis hingga sampai kisah Surga di Revelation, tidak ada pernyataan Tuhan secara langsung menyebutkan Kristen didalamnya.
Kata Kristen hanya disebutkan 6 kali dalam terjemahan TB LAI, dan itu semuanya disampaikan oleh manusia, yaitu dokter Lukas dalam (Act 11:26);Raja Agripa (Act 26:28); Rasul Paulus (Romans 16:7, 1 Corinthians 9:5, 2 Corinthians 12:2); dan rasul Petrus (1 Peter 4:16).Dimana dalam semua ayat ini, tidaklah membahas keutamaan Kristen dibandingkan agama-agama lainnya.
Dan dari yang saya jalani selama ini hasil dari merenungkan Alkitab ini, terlihat bahwa isinya berbicara tentang Tuhan yang terus berkarya dalam setiap aspek hidup manusia sejak penciptaan hingga nanti kiamat yang ingin supaya manusia mengenal Dia sebagai Tuhan, dan bukan manusia itu sibuk dengan agamanya.
Bahkan kalau boleh saya simpulkan dari pengamatan saya, Tuhan justru mengecam banyak para ahli agama dan pemimpin-pemimpin agama yang justru bukan membawa manusia semakin mengenal Tuhan tetapi justru membuat manusia itu hidup menjauh dari Tuhan karena agama-agama yang dijalankannya.
Jadi saya berkesimpulan, semakin kita mencari Tuhan maka kita akan semakin baik dan saleh dalam beragama, namun jika orang sibuk dengan agama-agamanya maka Tuhan justru semakin ditinggalkan.
MENGAPA?
Agama sesungguhnya telah menjauhkan Tuhan dan menjadi tembok pemisah bagi orang-orang yang ingin mencari Kebenaran.Seolah-olah agama mengatakan, untuk sampai ke Tuhan, manusia harus melewati pintu pertama yaitu agamanya dulu, padahal sesungguhnya manusia bisa langsung berjumpa dengan Tuhan, karena sejak Adam pun, tidak ada yang namanya agama Kristen, Islam, Hindu,budha,dll.
Pada akhirnya, memang justru semakin jelaslah bahwa para religius man and woman inilah yang akan menghancurkan manusia dengan agamanya. Bahkan saya bisa menyatakan dengan TEGAS bahwa justru kaum alim ulama yang bernama Ahli Taurat dan kaum Farisi lah yang sesungguhnya Menyalibkan dan membunuh Yesus. Meskipun menggunakan tentara Roma sebagai kendaraan politiknya.
Jadi saya lebih baik dikatakan tidak beragama daripada dikatakan tidak bertuhan,

Sumber : Kompasiana

Baca Selengkapnya ....

Penderitaan dan Teodisi

Posted by Yosua Penpada Senin, 25 November 2013 0 komentar

Pengalaman-pengalaman manusia dalam menghadapi serta  mengalami bencana dan penderitaan, mengarahkan manusia mempertanyakan sejauh mana Keadilan Allah atau Teodisi. Apakah bencana dan penderitaan adalah Teodisi ataukah konsekwensi logis dari kebebasan manusia? Ataukah memang bencana dan penderitaan yang terjadi itu di luar kekuasaan Allah? Jika memang dari Allah sebagai Teodisi demi kebaikan manusia, kebaikan yang seperti apa yang kemudian dapat diterima dan dibenarkan jika Allah yang mahakuasa, mahabaik, mahatau berada dibalik penderitaan dan bencana?  Kalau memang Allah dengan sifat-sifatNya itu bagaimanakah Teodisi dapat dipahami? Begitu fundamentalnya persoalan Teodisi ini, maka sangat mustahil jika mau memfinalkan setiap pemikiran tentang Teodisi. Penderitaan yang dikaitkan dengan Keadilan Allah menimbulkan banyak pertanyaan yang belum terjawab, di antaranya apakah bencana dan penderitaan berasal merupakan keadilan Allah? Dan apakah Allah memang menghukum  manusia? Kalau demikian maka sebenarnya iman Kristen dan Gereja diperhadapkan dengan misteri penderitaan yang jawabannya melampaui batas-batas rasional.

Teodisi semakin sulit sebab yang kita bicarakan adalah keadilan Allah atau Allah sendiri. Teodisi merupakan “tindakan keadilan” Allah terhadap manusia, maka tentu yang pertama yang harus disepakati adalah bahwa Allah itu ada. Karena jika Allah tidak ada maka tidak ada Teodisi, Hal ini penting sehingga kemudian tidak terjebak dalam pertanyaan apakah Tuhan ada atau tidak.  Kedua Teodisi hanya dapat dipahami dari perspektif manusia sesuai dengan keterbatasannya sebagai ciptaan dalam memahami Allah sebagai Pencipta.
Teodisi juga bukanlah  sekedar persoalan ilmiah yang dapat dijawab melalui eksperimen dan observasi, bukan pula persolan praktis yang dapat diselesaikan dengan keputusan etis dan menindaklanjutinya. Teodisi juga merupakan persolan iman yang memerlukan sebuah pemikiran yang dapat menjelaskan secara proporsional siapa dibalik setiap bencana yang membawa penderitaan bagi manusia.

Teodisi adalah masalah yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah , sebab jika Allah memang Mahatau, Mahakuasa dan Mahakasih mengapa masih ada penderitaan dan bencana? Yang kemudian bencana dan penderitaaan dalam dunia dihubungkan dengan Teodisi atau keadilan Allah. Pertnyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul dalam menghadapi penderitaan.

Karena itu perlu sekali dibangun sebuah cara pandang yang baru dalam memahami bencana dan penderitaan tanpa mengingkari kebebasan manusia dan keyakinan manusia akan Allah. Alkitab sendiri memiliki jawaban yang beragam terhadap penderitaan dan bencana yang dialami oleh manusia, misalnya kejadian 3:1-24 ; 6:1-8 yang memahami dan menginterpretasi secara teologis tentang Teodisi dalam perspektif. (teodisi persoalan yang belum selesai karena itu lanjutkan sendiri,,,, hehe)


Baca Selengkapnya ....

Masyarakat Adat Alor

Posted by Yosua Penpada Rabu, 20 November 2013 0 komentar





Baca Selengkapnya ....

pilihan eksistensial

Posted by Yosua Penpada 0 komentar

Manusia selalu mengarah pada dua pilihan yang menimbulkan implikasi masing-masing yang berbeda. Pilihan kembali pada eksistensi yang alamia atau mengembangkan diri untuk menyempurnakan kemanusiaannya (Erick Form). Baginya menjadi manusia tidak berarti “ada dalam dunia”, tapi sekaligus “ada bersama dunia”. Pencaharian makna hidup berarti berusaha menemukan pemecahan masalah atas setiap ketegangan eksistensial.

Baca Selengkapnya ....
Yosua Penpada support Jemaat Silo Labapu - Original design by Bamz | Copyright of Jemaat Silo Labapu.

Total Tayangan Halaman

Followers